Meredakan Stres dengan Berbelanja, Ketahui Risikonya

Meredakan Stres dengan Berbelanja, Ketahui Risikonya
Ilustrasi berbelanja. Credits: Freepik

Bagikan :

Saat stres melanda, sebagian orang memilih berbelanja untuk mengalihkan pikiran dan memperbaiki suasana hati. Fenomena ini dikenal sebagai retail therapy dan memang dapat memberikan rasa lega untuk sementara.

Sayangnya, jika dijadikan sebagai pelarian, retail therapy justru dapat memicu masalah baru, baik bagi kesehatan mental maupun kondisi finansial.

 

Apa itu Retail Therapy?

Retail therapy adalah istilah untuk menggambarkan kebiasaan berbelanja bukan karena kebutuhan, tetapi untuk merasa lebih baik secara emosional. Aktivitas ini memang dapat memicu hormon bahagia seperti dopamin, serotonin, dan endorfin, terutama saat seseorang memilih, membayangkan, atau akhirnya membeli sesuatu yang diinginkan.

Berbelanja juga memberi rasa kendali. Ketika hidup terasa kacau, keputusan sederhana seperti memilih barang bisa menciptakan ilusi bahwa seseorang masih memiliki kuasa atas situasi. Ini menjelaskan mengapa banyak orang langsung membuka aplikasi belanja saat merasa cemas, sedih, atau stres.

Namun, seperti dijelaskan para ahli, efek bahagia dari retail therapy hanya berlangsung sementara. Setelah rasa senang itu hilang, tidak jarang muncul perasaan bersalah, malu, atau cemas.

Baca Juga: 7 Tanda Kecanduan Belanja Online yang Perlu Diwaspadai

 

Bahaya di Balik Belanja untuk Meredakan Stres

Saat stres berkepanjangan, kebiasaan menjadikan belanja sebagai pelarian dapat berubah menjadi doom spending—pengeluaran impulsif yang muncul karena kecemasan terhadap masa depan.

Doom spending menciptakan siklus yang tidak sehat: stres → belanja impulsif → kelegaan sesaat → rasa bersalah → stres yang semakin besar → belanja lagi.

Belanja impulsif sering dilakukan menggunakan kartu kredit atau layanan Paylater, yang pada akhirnya memperparah tekanan finansial. Perilaku ini juga dapat merusak hubungan sosial, karena rasa malu akibat pengeluaran berlebihan sering membuat seseorang menyembunyikan kebiasaan belanjanya.

Selain itu, banyak barang yang dibeli secara impulsif hanya digunakan sekali atau bahkan tidak pernah dipakai. Situasi ini dapat menimbulkan rasa hampa dan penyesalan yang lebih besar setelahnya.

Baca Juga: Kecanduan Belanja Termasuk Gangguan Mental, Kenali Tanda-Tandanya

 

Tips Agar Terapi Retail Tidak Berkembang Menjadi Belanja Kompulsif

Sebenarnya, berbelanja sesekali untuk bersenang-senang adalah hal yang wajar, selama dilakukan dengan kesadaran dan batasan yang jelas. Berikut beberapa tips agar retail therapy tetap sehat dan tidak mengganggu kehidupan:

Kenali pemicunya

Sebelum berbelanja, luangkan waktu sejenak untuk memeriksa suasana hati. Apakah muncul stres akibat pekerjaan? Rasa kesepian? Atau emosi?

Banyak orang berbelanja bukan karena membutuhkan barang, melainkan untuk meredakan ketegangan emosional. Dengan memahami pemicu dorongan tersebut, Anda dapat menilai apakah belanja benar-benar merupakan solusi atau hanya pelarian sementara.

Terapkan aturan tunggu 24 jam

Keinginan spontan untuk membeli sesuatu sering muncul saat emosi sedang intens. Berikan jeda setidaknya 24 jam agar Anda punya waktu untuk berpikir lebih jernih sebelum memutuskan membeli.

Gunakan uang tunai, bukan kartu kredit

Metode pembayaran dapat memengaruhi cara seseorang menilai sebuah pembelian. Membayar dengan uang tunai membuat Anda lebih sadar bahwa ada uang yang benar-benar keluar dari dompet.

Sebaliknya, penggunaan kartu kredit, paylater, atau QRIS sering membuat transaksi terasa lebih ringan, padahal konsekuensi finansialnya dapat sama beratnya.

Batasi paparan

Terlalu sering terpapar iklan, promo, atau flash sale dapat memicu dorongan untuk terus berbelanja. Karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.

Hentikan langganan email promo, matikan notifikasi aplikasi belanja, dan batasi waktu melihat media sosial yang banyak menampilkan konten sponsor.

Ganti dengan aktivitas yang lebih sehat

Jika Anda menyadari bahwa belanja menjadi pelarian emosional, cobalah mencari aktivitas alternatif yang dapat memberi rasa lega tanpa membawa konsekuensi negatif. Misalnya, berolahraga ringan, mendengarkan musik, menulis jurnal, atau sekadar berbincang dengan teman atau orang terdekat.

 

Dengan memahami pola belanja dan mengenali pemicunya, Anda dapat menjadikan retail therapy sebagai kegiatan yang menyenangkan tanpa harus mengorbankan kesehatan mental maupun kondisi finansial.

Jika Anda kesulitan untuk menghentikan kebiasaan belanja, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Anda juga bisa memanfaatkan layanan konsultasi kesehatan pada aplikasi Ai Care yang tersedia di App Store atau Play Store.

 

Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!

Writer : Agatha Writer
Editor :
  • dr Nadia Opmalina
Last Updated : Jumat, 5 Desember 2025 | 19:48
article-banner

Cleveland Clinic (2024). Why ‘Retail Therapy’ Makes You Feel Happier. Available from: https://health.clevelandclinic.org/retail-therapy-shopping-compulsion 

Wendy Wisner (2025). Why Doom Spending Isn't the Stress Relief You Think You Need. Available from: https://www.verywellmind.com/doom-spending-to-relieve-stress-11713583 

Elizabeth Hartney, BSc, MSc, MA, PhD (2025). What Is a Shopping Addiction?. Available from: https://www.verywellmind.com/shopping-addiction-4157288