• Beranda
  • Penyakit
  • Sensitif pada Suara Tertentu, Benarkah Misophonia Berhubungan dengan ADHD?

Sensitif pada Suara Tertentu, Benarkah Misophonia Berhubungan dengan ADHD?

Sensitif pada Suara Tertentu, Benarkah Misophonia Berhubungan dengan ADHD?
Ilustrasi terganggu suara. Credit: Freepik

Bagikan :

Misophonia adalah kondisi ketika seseorang memiliki sensitivitas berlebihan terhadap suara-suara tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti suara mengunyah, bersiul, menguap, air menetes, atau detak jam. Saat mendengar suara-suara tersebut, pengidap misophonia dapat merasakan emosi negatif yang kuat, seperti marah atau kesal, disertai reaksi fisik seperti detak jantung yang meningkat.

 

Apa Itu Misophonia?

Istilah misophonia berarti “kebencian terhadap suara”. Orang yang hidup dengan kondisi ini dapat mengalami berbagai reaksi emosional, seperti marah, jengkel, atau tidak sabar, ketika mendengar suara-suara tertentu. Misophonia lebih sering dilaporkan pada wanita, dan setiap individu dapat memiliki sumber suara pemicu yang berbeda-beda.

Beberapa suara yang sering menjadi pemicu misophonia antara lain:

  • Suara siulan
  • Suara hewan menjilat atau menggaruk
  • Suara gesekan kain
  • Suara ketukan yang berulang
  • Suara detak jam
  • Suara napas

Sebagian orang mungkin hanya memiliki satu jenis suara pemicu, sementara yang lain dapat memiliki beberapa suara sekaligus. Reaksi yang muncul pun bervariasi. Ada yang masih mampu mengendalikan respons perilaku meskipun emosinya tidak terkendali, namun ada juga yang kesulitan mengendalikan baik emosi maupun responsnya.

Baca Juga: Kesal Mendengar Suara Tertentu? Bisa Jadi Tanda Misophonia

 

Hubungan Misophonia dengan ADHD

Hingga saat ini, penelitian yang secara khusus meneliti hubungan antara ADHD dan misophonia masih terbatas. Sebuah studi pada tahun 2020 melaporkan bahwa dari 575 orang dengan misophonia, sekitar 5% atau ±31 orang juga memiliki ADHD.

Meski demikian, temuan ini tidak dapat langsung disimpulkan bahwa pengidap misophonia pasti didiagnosis ADHD. Hasil tersebut hanya menunjukkan adanya potensi keterkaitan, sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan keduanya secara lebih jelas.

Para ahli berpendapat bahwa terdapat cukup banyak bukti yang mengaitkan ADHD dengan peningkatan sensitivitas terhadap rangsangan sensorik, termasuk suara. Orang dengan ADHD dapat mengalami kesulitan dalam menyaring dan memproses rangsangan sensorik yang tidak relevan, sehingga mengganggu kemampuan untuk fokus pada informasi yang dibutuhkan.

Mirip dengan yang terjadi pada misophonia, kelebihan rangsangan sensorik ini dapat memicu stres, kecemasan, dan kemarahan. Emosi-emosi tersebut cenderung lebih sulit ditoleransi dan dikelola jika seseorang dengan ADHD juga mengalami gangguan regulasi emosi, yang merupakan masalah umum pada kondisi ini.

Selain ADHD, misophonia juga sering dikaitkan dengan kondisi lain, seperti:

Baca Juga: Pilihan Terapi untuk Penderita Misophonia, Gangguan Emosional Akibat Mendengar Suara Tertentu

 

Bisakah Misophonia Disembuhkan?

Misophonia belum diakui sebagai diagnosis medis resmi. Meski demikian, beberapa pendekatan perawatan dapat membantu meredakan gejalanya. Kemiripan serta kemungkinan keterkaitan misophonia dengan OCD dan PTSD menunjukkan bahwa kondisi ini dapat membaik dengan psikoterapi.

Psikoterapi memang tidak selalu menyembuhkan misophonia sepenuhnya, tetapi dapat membantu dalam beberapa hal berikut:

  • Mengidentifikasi suara-suara pemicu
  • Menemukan cara untuk meminimalkan atau mencegah paparan suara pemicu
  • Membantu menghindari reaksi impulsif terhadap suara pemicu
  • Mengurangi sensitivitas terhadap pemicu

Selain psikoterapi, beberapa langkah lain yang dapat membantu meredakan gejala misophonia antara lain:

  • Menggunakan earplug untuk meredam suara
  • Mendengarkan musik, white noise, atau suara lain agar otak tetap fokus pada rangsangan yang lebih netral dibandingkan suara pemicu
  • Melakukan latihan relaksasi untuk membantu mengelola stres dan emosi

 

Hingga saat ini, hasil penelitian belum menunjukkan bukti yang jelas mengenai hubungan langsung antara misophonia dan ADHD. Meski demikian, beberapa studi mengindikasikan bahwa misophonia mungkin berkaitan dengan gejala yang juga sering ditemukan pada ADHD, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD).

Jika memiliki pertanyaan seputar misophonia dan ADHD, Anda bisa berkonsultasi ke dokter atau manfaatkan fitur konsultasi pada aplikasi Ai Care yang bisa diunduh melalui App Store atau Play Store.

 

Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!

Writer : Ratih AI Care
Editor :
  • dr Nadia Opmalina
Last Updated : Kamis, 25 Desember 2025 | 18:11
article-banner

The Healthline Editorial Team. (2025). How Are ADHD, Misophonia, and Noise Sensitivity Connected?. Available from: https://www.healthline.com/health/adhd/misophonia-and-adhd

Cleveland Clinic. (2023). Misophonia. Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24460-misophonia

WebMD Editorial Contributors. (2024). What Is Misophonia?. Available from: https://www.webmd.com/mental-health/what-is-misophonia

Evans. J. (2023). Understanding Misophonia: When Everyday Sounds Cause Distress. Availablle from: https://www.healthline.com/health/misophonia