Kebiasaan mengunyah es batu sering dianggap sebagai kebiasaan unik atau sekadar cara menyegarkan mulut. Namun, jika dorongan untuk mengunyah es batu terasa sangat kuat, sering terjadi, dan sulit dikendalikan, kondisi ini tidak lagi bisa dianggap sebagai kebiasaan biasa.
Kebiasaan mengunyah es batu hampir setiap hari atau dalam jumlah besar dikenal sebagai pagophagia. Memahami kondisi ini menjadi langkah penting untuk mengenali penyebab yang mendasarinya dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.
Apa itu Pagophagia?
Pagophagia merupakan bagian dari gangguan makan yang disebut pica, yaitu dorongan kuat dan berulang untuk mengonsumsi benda yang bukan makanan atau tidak memiliki nilai gizi.
Berbeda dengan sekadar menghisap es batu saat haus, orang dengan pagophagia cenderung mengunyah es batu secara kompulsif dan dapat merasa gelisah atau tidak nyaman ketika tidak melakukannya.
Meskipun es batu terbuat dari air dan tampak tidak berbahaya, kebiasaan ini dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang mendasarinya, seperti defisiensi nutrisi, gangguan kesehatan mental, atau kondisi medis tertentu yang memerlukan penanganan.
Selain itu, mengunyah es batu secara terus-menerus juga berisiko menyebabkan kerusakan enamel gigi, nyeri rahang, hingga gangguan pencernaan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Mengenal Pica, Ketika Anak Gemar Makan Benda yang Bukan Makanan
Penyebab Pagophagia
Penyebab pasti pagophagia belum sepenuhnya diketahui. Namun, beberapa faktor diduga dapat berperan dalam munculnya kondisi ini, di antaranya:
Defisiensi zat besi
Sejumlah studi menemukan bahwa orang dengan kadar zat besi rendah sering mengalami dorongan untuk mengunyah es batu. Zat besi berperan penting dalam pembentukan sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Ketika kadar zat besi rendah, suplai oksigen ke otak juga ikut menurun.
Keinginan mengunyah es batu pada kondisi ini diduga muncul sebagai respons alami tubuh. Sensasi dingin dari es merangsang saraf di mulut dan dapat meningkatkan aliran darah ke otak secara sementara, sehingga menimbulkan efek lebih segar atau “melek” sesaat.
Defisiensi nutrisi lain
Selain zat besi, kekurangan mineral lain seperti seng dan kalsium juga diduga berperan dalam munculnya keinginan mengunyah es batu. Meski bukti ilmiahnya masih terbatas, beberapa peneliti meyakini bahwa ketidakseimbangan nutrisi dapat memengaruhi sinyal saraf yang mengatur nafsu makan dan perilaku makan yang tidak biasa.
Baca Juga: Benarkah Terlalu Banyak Minum Matcha Picu Kekurangan Zat Besi?
Gangguan mental
Pagophagia juga dapat muncul sebagai bagian dari gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Pada kondisi ini, mengunyah es batu sering menjadi mekanisme koping untuk meredakan stres, kecemasan, atau emosi yang belum tertangani dengan baik.
Dehidrasi
Dehidrasi dapat menyebabkan mulut kering dan rasa haus yang memicu keinginan mengunyah es batu. Namun, jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus meskipun asupan cairan sudah cukup, kemungkinan besar terdapat penyebab lain yang mendasarinya.
Pagophagia mungkin terdengar seperti kebiasaan aneh yang tidak berbahaya, tetapi sebenarnya dapat menjadi sinyal peringatan dari tubuh. Untuk mengetahui penyebab di balik kebiasaan ini secara pasti, disarankan untuk melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter.
Anda juga dapat memanfaatkan layanan konsultasi kesehatan pada aplikasi Ai Care yang bisa diunduh melalui App Store atau Play Store.
Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!
- dr Nadia Opmalina
Cleveland Clinic (2023). Why Chewing Ice Is Bad for Your Teeth. Available from: https://health.clevelandclinic.org/chewing-ice-bad-for-teeth
WebMD (2023). What is Pagophagia?. Available from: https://www.webmd.com/a-to-z-guides/what-is-pagophagia
WebMD (2024). Pica Disorder: Understanding Causes, Symptoms, and Treatment. Available from: https://www.webmd.com/mental-health/mental-health-pica
Cleveland Clinic (2022). Pica. Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22944-pica